Bukit Lawang, Sumatera Utara (Part 2)

Begitu masuk area Bukit Lawang cuma bisa bengong dan menghela napas panjang… sukaaaa!!!! Gila ya, baru juga masuk ke bagian paling depannya udah ngomong dalam hati “gue suka banget sama tempat ini! Dan harus balik lagi”.

Gerbang depan Bukit Lawang

Gerbang depan Bukit Lawang

Abis kelar bengong-bengong langsung jalan cari-cari penginapan dan dari awal sudah ngincer mau nginep di Green Hill karena letaknya yang diatas bukit. Nyari penginapannya PR juga karena udah sore, sendiri dan nggak punya bayangan Bukit Lawang ini kaya apa bentukannya. Akhinya saya pun menyusuri jalan setapak yang rupanya jalanan panjang ini tak berujung… jadi setelah melewati berbagai penginapan dan rumah makan di bagian-bagian awal kemudian ada sedikit tanjakan, daerah sepi dan kemudian kita akan ktemu lagi dengan keramaian. Jalan setapak ini mengikuti si sungai Bahorok dan letaknya Green Hill nyaris ke ujung, ke pintu masuk TN. Gunung Leuser. Sepanjang jalan yang dilihat pohon hijau, denger suara air di sungai, menghirup udara segar dan ketemu 1001 orang ramah!

Jalan setapak

Hutan Bukit Lawang

Karena sendirian, harga kamar di Green Hill yang Rp. 150.000 semalam itu jadi terasa mahal kemudian liat penginapan di depannya cuma Rp. 80.000 sih tapi nggak sreg karena kamar mandi luar dan yang jaga cowok semua 🙂 akhirnya melipir ke sebelahnya, Indra Inn Valley sebenernya sih agak tegang juga masuknya karena bagian bawahnya dijadikan restoran dan suasananya temaram gitu, cuma karena yang jaga ada 2 cewek + 1 anak kecil agak tenang dan pas liat kamarnya… hadeuuuh… udah ga pake mikir2 lagi :p kamarnya cuma ada 2 letaknya di lantai atas, saya ambil yang paling depan karena berasa lebih luas, kasurnya ukuran queen, ada kipas angin, meja + lemari baju dan kamar mandi dalam yang guede… Juaranya sih teras kamarnya ada bangku panjang dan hammock… Duh, untuk harga Rp. 100.000/malam buat saya ini sih udah nggak usah mikir panjang lagi!

Indra Valley Inn

I can't say no to this ^.^

I can’t say no to this ^.^

Awalnya hanya berniat untuk nginep 2 malam saja di Bukit Lawang, apa daya kenyataannya malah nambah satu malam (dan nyaris nambah lagi). Kegiatan saya selama di Bukit Lawang itu cuma main 😀 trekking ke hutan trus pulangnya rafting, makan enak, ngobrol sama penduduk lokal, bengong-bengong, baca buku, nulis postcard daaan… ke kawinan! Hahahaha… Yang belom kesampean adalah rafting dan tubing dari ujung sungai ke ujung sungai satunya dan ngerasain camping di hutan. Duh, kalo nggak inget udah janjian sama sepupu di Medan dan di Bukit Lawang nggak ada signal untuk ngabarin, saya pasti akan nambah 3 hari lagi. Hihihi…

Trekking di Bukit Lawang selama lebih dari 6 jam jadi PR banget buat saya! Jarang olahraga eh trus disuruh jalan melewati rute yang sulit! Bahkan ada di beberapa spot ga keliatan mesti jalan kemana trus saya sampe nanya “ini serius turun ke bawah situ? turunnya gimana? lewat mana?” kadang juga keluar komentar “Bang, ini beneran jalannya? gue ga dikerjain kan?” riwil deh! Eh tapi kata guidenya si Bang Simon saya bukan tamu yang suka ngeluh loh, cuma lambatttt bangetttt. Hahahaha…

masih semangat!

masih semangat!

Jadi trekking ini dimulai setelah kita melihat orang utan dikasih makan nah trus lanjut deh jalan-jalan dalem hutan. Awalnya sih nggak berat, keliatan deh kaki dan tangan harus napak dimana nah lama-lama… buset! Disuruh turun kebawah, tapi jalurnya ketutup daun semua atau disuruh naik tapi kok ya 90 derajat? Weks… Selama trekking itu kita bisa menjumpai burung-burung di hutan, monyet, gibon dan orang utan lainnya. Seneng banget 🙂 Tapi, sangking lambatnya saya, pas di 1 titik kita ktemu sama orang utan yang katanya suka meluk dan kalo dia meluk ngelepasnya ya suka-suka, bisa aja gitu kita 3 jam di peluk dia. Nah, untuk menghindari saya dipeluk sama orang utan (yang saya lupa namanya) maka tangan saya ditarik dan diajak pergi dari wilayah itu secepatnya.. Saya sih nggak ngerti apa-apa jadi seneng aja krn bisa gerak lebih cepet, tapi mukanya bang Simon kok ya panikkkk? Hihihi… Telat 1 jam dari jadwal semestinya jadinya pas keluar dari hutan perahu dari ban karet sudah siap sedia! Wohoooii.. kita kembali ke penginapan lewat jalur sungai. Seruuuu bangettttt!

orang utan 2

thomas leaf monkey

Yang paling bikin sedih selama disini adalah saya hanya satu-satunya tamu lokal (jangan hitung penduduk lokalnya) disana sampai akhirnya di hari terakhir saya di Bukit Lawang muncul 1 cewek asal Medan yang ternyata udah kemping selama 3 malam di hutan! Selebihnya adalah turis asing yang datang sendirian, sekeluarga, sepasang atau segeng 😦 Sedih deh, ini ketiga kalinya saya pergi ke tempat cantik di Indonesia dan menjadi minoritas. Hal asik lainnya yang bisa dilakukan di Bukit Lawang adalah mencari restoran yang letaknya di pinggir sungai trus menghabiskan waktu disana. Baik untuk ngobrol, membaca buku atau bengong. Makanan yang disajikan ya sesuai tamu yang datang… western food meskipun standar makanan Indonesia tetep ada seperti nasi goreng dan mie goreng. Eh, tapi ada warteg juga sih yang menyajikan nasi rames.

selamat sore!

selamat sore!

Bukit Lawang, punya kesan tersendiri bagi saya. Suasananya, penduduknya, kegiatannya, alamnya dan mungkin karena ini pengalaman saya solo traveling ya… ah, saya pasti akan kembali ke Bukit Lawang.

Iklan

4 pemikiran pada “Bukit Lawang, Sumatera Utara (Part 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s