Story: Derawan – LOB Dive Trip, 8-12 Maret 2013

Sejak kapal untuk Live on Board (LOB) ini selesai dibuat, gue selalu dibujuk sama pemiliknya untuk make kapal ini. Dimulai dengan diajak liat isi kapalnya pas baru jadi, trus ditawarin buat island hopping dengan kapal ini. Akhirnya bulan Maret kemarin jadi juga diving trip selama 3 hari pakai kapal ini, kapal yang masih tanpaΒ  nama.

Ngumpulin orang buat dive trip nggak sesusah ngumpulin orang buat snorkeling trip. Kapal dengan kapasitas 8 tamu itu pun dijejelin sampai 9 orang! Oh well, 8 orang tidur di kamar dan gue tidur di belakang. 9 orang itu: Aldo, Agus, Cici, Endi, Iko, Tika, Yoggie, Yudho dan gue.

9 of us (photo by: Aldo Jonathan)

9 of us (photo by: Aldo Jonathan)

Perjalanan ini penuh drama darah dan air mata yang dimulai jauh sebelum trip ini terjadi sampe saat mau pulang! Dimulai dengan ditutupnya maskapai Batavia kira2 1 bulan sebelum keberangkatan yang membuat kita semua mesti beli tiket baru (padahal Batavianya super promo dan udah ngarep rutenya diambil sama maskapai lain). Drama dilanjutkan di hari keberangkatan dimana saudara Yoggie ketinggalan pesawat!!! Nggak mesti iba/shock sih, soalnya salah dia sendiri, pesawat take-off jam 6 pagi dia jam 5 masih dijalan! Akibatnya dia juga ketinggalan pesawat dari Balikpapan ke Berau. Trus di beri harapan palsu sama mas-mas Kalstar. Katanya pesawat akan nungguin si Yoggie, eh begitu kita semua naik pesawat pintu langsung ditutup dan pesawat langsung mundur!

Karena Yoggie telat, jadilah 2x gue mesti merayu-rayu pramugari dan petugas check-in buat nungguin dia. Karena nggak ketolong juga, ya ribet deh nyariin flight lain buat si Yoggie yang jarak waktunya nggak terlalu jauh dengan waktu kedatangan kami di Berau. Untungnya yang lain pada nggak manyun karena mesti nungguin Yoggie di Berau :p (Eh manyun nggak ya?)

Pengalaman di Kalstar lain lagi. Gue duduk kepisah karena penuh (di boarding pass sih ada nomer bangku, tapi kata pramugarinya duduk dimana aja yang kosong), dan katanya di bagian depan panas banget sampe pramugarinya kipas-kipas. Huahahaha… Gue di belakang sih adem tapi pas ke toilet disuruh siram pake Aqua gelas! Ini gara-gara air di Berau kurang bersih, jadi mereka nggak isi air. Gubrak!

Drama terakhir terjadi pas pulang, dan kali ini disebabkan oleh Lion Air yang delay. Jadi kedelapan anak itu kebetulan dapet tiket PP murah. Mereka beli duluan, sementara gw awalnya ada rencana extend tapi nggak jadi. Pas mau beli tiket pulang eh Lion Air mahils dibanding GA! Jadi dong gue beli GA aja dengan beda waktu penerbangan selama 2 jam yang ternyata kemudian hanya beda sekitar 45 menit… dan mereka pun iri πŸ˜€

Oh, btw sejak 2009, baru di 2013 ini gue kembali menggunakan rute Berau, dan ternyata udah terlalu banyak perubahan! Banyak maskapai yang sekarang melayani rute ke Berau meski semuanya punya harga dan waktu yang beda tipis. Rutenya juga ada yang dari Solo, Surabaya, Balikpapan atau Tarakan. Bandara Berau sekarang alamakjaaan…. bagus betul!!!! Sekarang juga ada semacam travel dari bandara Berau menuju ke Tj. Batu. Ih, asik ini πŸ™‚

Bandar Udara Kalimarau

Bandar Udara Kalimarau

Divingnya sendiri berlangsung lancar. Meski ada sedikit kekurangan sana-sini, masih tertutup dengan keriuhan suasana penyelaman dan ketawa-ketiwi selama perjalanan. Total diving yang (harusnya) dilakukan itu 9x: 4x di Sangalaki, 3x di Maratua dan 2x di Kakaban. Agak beda dengan yang direncanakan (3x Maratua, 4x Sangalaki, 2x Kakaban dan 1x Derawan). Cuma kan manusia yang berencana Tuhan juga yang menentukan πŸ˜€

Grup diving kita bagi jadi 2: grup 1 terdiri dari 5 cowok dan grup 2 terdiri dari 4 cewek. Di Sangalaki mestinya liat Manta Raya cuma (seperti biasa) MANA MANTANYA??? MANAAA??? Yang ada di 2 diving terakhir di Sangalaki gue dan Cici mau hura-hura aja dan kemudian nyelem nggak pake wetsuit. Hasilnya? Dengkulnya Cici luka-luka! πŸ˜€

Diving di Maratua itu paling tsakep dibandingkan 2 pulau lainnya! Visibility bagus bangettttt dan dive sitenya juga kece. Nah, mestinya disini penyelaman ke-3 itu dilakukan di Channel, tapi gue kan nggak punya hook dan gloves ya, jadinya gue nggak berani turun. Iko memutuskan turun di site itu dan kemudian menguasai 1 dive guide.. Kalau buat Iko, selama 3 tahun menyelam pengalaman di The Channel ini emejing bangetttttt… Lain kali ah balik lagi menyelam di The Channel.

Diving hari terakhir dilakukan di Kakaban. Ini juga juara kelas! Wallnya bagussssssss! Pas dive terakhir, kita cewek2 udah punya niat buat diving cantik, sementara yang cowok2 mau ngeliat schooling Baracuda. Eh ya olooooo…. kebolak aja gitu. Yang cowok2 nggak nemu Baracuda (bahkan nggak ada arus), sementara yang cewek2 awur2an dibawah krn ketemu arus segala rupa: depan, belakang, atas, bawah! Preeet!!! Tapi ya jadinya liat shark dan baracuda sih :p

Kejadian menyenangkan juga dialami selama 2 hari terakhir di kapal… Kami ditemani lumba-lumba pagi & sore! Bahkan pas menuju ke Maratua untuk merapat buanyak banget lumba-lumba seliweran di samping dan depan kapal. Mereka berenang-renang dan loncat-loncat πŸ˜€ Selain banyak buanget jumlahnya lumba-lumba itu juga lama banget nemenin kami sore itu :’)

3 malam kami habiskan di kapal. Pas malam di Sangalaki itu dahsyat banget, karena Sangalaki adalah pulau tanpa penghuni, jadinya yang terang ya cuma kapal kita dan bintang bertumpahan di langit malam itu. Yudho nemuin 8 bintang jatuh dan dia selalu masuk kamar paling terakhir karena keasikan liat bintang :p Sedangkan pas di Maratua kapal kita bersandar di dekat penginapan mewah, jadinya terang dan bintangnya nggak serame malam sebelumnya. 3 hari diatas kapal dihabiskan dengan tidur, nyelam, makan, ngobrol. Bangun pagi trus nyelem trus sarapan trus nyelem lagi trus makan siang trus nyelem lagi. Gile! Ini. Asik. Banget!!! Makanan di kapal juga surprisingly nggak ala kadarnya. Masa’ kita makan rawon, soto ayam, kepiting saus tiram, ikan lele goreng kering, ikan goreng kering, ayam goreng tepung, cumi goreng tepung dan sup udang! Minusnya cuma 2x dikasih sarapan mie instan :p

Prawn soup for lunch! (Photo by: Aldo Jonathan)

Prawn soup for lunch! (Photo by: Aldo Jonathan)

Awalnya gue merasa nggak ada spesialnya di ketujuh penyelaman yang gue lakukan. Gue nggak melihat ada makhluk aneh/baru yang belom pernah gue lihat sebelumnya. Selama 7x nyelam di Derawan yang gue temuin itu Nudibrach, penyu, schooling Angelfish dan ikan lainnya, bumphead, clown triggerfish (my fave!), cuttlefish, beragam soft dan hard coral, sampe ke hiu dan baracuda. Eh, ada 1 deng yang baru: pygmy seahorse warna kuning. Ih, amit-amit kecil bangetttttt! Tapi akhirnya gue rasa gue mesti setuju dengan Putu, dive guide kami selama disana: apa yang dilihat di berbagai lokasi lain, ada semua di Derawan (jangan hitung Lembeh + Mola2 ye) πŸ™‚

Nggak sabar rasanya mau LOB lagi dan dive trip lagi! Uhuy!

Iklan

3 pemikiran pada “Story: Derawan – LOB Dive Trip, 8-12 Maret 2013

  1. kok gue merinding ya baca bagian berau yg udah banyak perubahan.. hihihi..inget jaman geng Derawan ‘perintis’..! hahahaahah
    dan cerita divingnya seru banget, kerasa menggebu2nya pas lo nulis :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s